Tempo Store

  • 0 item

Kopi: Aroma, Rasa, Cerita

General Collection

Kopi: Aroma, Rasa, Cerita
Keywords :
Kopi  
Downloads :
2
Views :
140
Uploaded on :
30-08-2018

Similar Stock

More

Synopsis

LIMA belas tahun setelah benih kopi arabika pertama kali ditanam Belanda di Jawa pada 1696, Bupati Cianjur Aria Wira Tanu mengirimkan empat kuintal kopi arabika varietas tipika ke Amsterdam. Ekspor kopi untuk pertama kalinya itu memecahkan harga di pasar Amsterdam. Pada 1726, sebanyak 2.145 ton kopi asal Jawa membanjiri daratan Eropa dan menggeser dominasi kopi Mocha asal Yaman. Sejak itu, kopi asal Jawa populer dengan sebutan Java Coffee.
 
Tak selamanya kopi arabika Nusantara berjaya. Menjelang  1880, jamur Hemileia vastatrix memakan daun kopi seperti karat menghabisi besi. Penyakit karat daun ini mengakibatkan Nusantara kehilangan potensi ekspor sampai 120 ribu ton. Dua puluh tahun kemudian, perusahaan perkebunan Soember Agoeng di Malang, Jawa Timur, mulai menanam 150 benih Coffea canephora var. Robusta. Kopi asal Kongo, Afrika ini dibeli dari Pembibitan Hortikultura Kolonial di Brussels, Belgia. Kini, robusta yang lebih tahan penyakit ini menguasai 73 persen produksi kopi Indonesia.
 
Lima tahun terakhir, demam kopi melanda Indonesia, kebanyakan dari varietas arabika. Kafe menjamur di kota-kota besar. Kopi bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup. Mereka tak hanya menyesap kopi, tapi juga mengulik sejarahnya, bagaimana kopi itu diolah, dan disajikan. Mereka tak lagi menginginkan kopi “bikinan” mesin, tapi menghendaki kopi yang diseduh manual (manual brew). Istilah single origin atau specialty sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari “upacara” minum kopi. 
 
Permintaan akan arabika pun kembali menggeliat. Banyak pekebun kopi yang kini kewalahan memenuhi permintaan arabika di pasar domestik. Gabungan Eksportir Kopi Indonesia mencatat, pertumbuhan konsumsi kopi dalam negeri mencapai delapan persen, lebih tinggi dibandingkan konsumsi dunia, juga lebih besar dari pertumbuhan produksi kopi dalam negeri. Maka, biji-biji kopi dari Gayo, Lintong, Malabar, Bali, Bajawa, Toraja, hingga Wamena menyebar ke seluruh penjuru Nusantara. Tak hanya ke kafe-kafe, tapi juga pojok-pojok kecil di rumah para penggemar “kopi gelombang ketiga.” 
Rp. 100.000 (PDF Version)

Stock Keywords

Find similar stock by selecting any combination of the following keywords. Click on any keyword to search on a single keyword.