MEMBELA ISLAM MEMBELA KEMANUSIAAN

Rp. 79,000

Rp. {{ formatPrice(priceCheck.pdf.price) }}

(Pdf) +

Rp. {{ formatPrice(priceCheck.hard_copy.price) }}

(Hard Copy)
Type
Qty Stock : Available
Qty
Stock : 6
Note
Mizan Store
Jakarta
4.5

        Istilah "Aksi Bela Islam" mendadak populer dalam kosa-kata gerakan politik-keagamaan kontemporer di Indonesia. Istilah ini merupakan mantra ampuh untuk memobilisasi dukungan umat Islam dalam merespons isu-isu sosial dan politik aktual yang dianggap berkaitan dengan nasib dan kepentingan umat Islam. Tidak ada yang salah dengan inisiatif aksi solidaritas atas dasar persamaan keyakinan. Yang penting dipahami, memperkuat solidaritas sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah)  tidak boleh menegasikan solidaritas kebangsaan yang majemuk (ukhuwah wathaniah) dan solidaritas kemanusiaan (ukhuwah basyariah).  
     
        Klaim "Aksi Bela Agama" bukanlah monopoli kelompok keagamaan tertentu. Pembelaan terhadap agama Islam hendaklah berpijak pada kepentingan menjaga hak-hak umat Islam yang selaras dengan bangunan politik kebangsaan yang inklusif dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Nalar  "Membela Islam, Membela Kemanusiaan" adalah bahwa membela Islam haruslah kongruen dengan membela kemanusiaan. Komitmen membela Islam akan sukar diterima jika aktualisasinya justru mengancam nilai-nilai keadaban, kebinekaan, dan kemanusiaan. Semangat membela Islam akan kehilangan esensinya apabila mengarah pada otoritarianis.
 
TENTANG PENULIS
 
Fajar Riza Ul Haq (lahir di Sukabumi,1979) merupakan Sekretaris Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2015-2020), Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Muhadjir Effendy Bidang Kerjasama Antar Lembaga, dan mantan Direktur Eksekutif MAARIF Institute (Desember 2009-Februari 2017). S1 di Jurusan Syariah,Universitas Muhammadiyah Surakarta (2002). S2 di Program Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Universitas Gadjah Mada (2006). Mengikuti beberapa pendidikan non-gelar: Chevening Fellowship di Universitas Birmingham, Inggris (2009), Sloan School of Management, MIT, Amerika (2011-2012), dan School of Economics and Management, Universitas Tsinghua, China (2013). Berkiprah  di pelbagai forum Internasional; pembicara Global Counter Terrorism Forum's Practisioners Workshop di Washington (2013), United Nations Alliance of Civilizations di Wina (2013), International Visitor Leadership Program of US State Department (2012), ASEAN-Australia Emerging Leaders Program di Kuala Lumpur (2012), Global Counter Terrorism Forum-Working Group di Manila (2012), The 17 New Generation Seminar, the East West Centre di Hawai, Shanghai, dan Tokyo (2007), Facilitation of Dialogue Process and Mediation Efforts, Folke Bernadotte Academy, di Swedia (2007), dan Australia-Indonesia Young Muslim Leaders Exchange (2005).
 
 
Buku ini tak hanya memotret tantangan peradaban Islam di Indonesia masih diliputi problema tafsir teks yang kaku, tetapi juga menambah perspektif optimistik bahwa Islam memayungi kemajemukan budaya dan menyuarakan keadilan. Penulis sangat cerdas menyajikannya dalam bahasa yang populis sehingga renyah untuk dicerna"
-Prof. Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
 
"Fajar Riza Ul Haq terus berusaha mencari mediasi-antara lain melalui tulisan-tulisannya-untuk mendorong transformasi sosial menuju Indonesia yang semakin adil dan sejahtera."
-Mgr. Ignatius Suharyo Pr, Uskup Agung Jakarta
   
"Karya ini patut dibaca bukan saja oleh kalangannya sendiri, tetapi juga oleh publik Indonesia umumnya. Sebagai seorang intelektual-aktivis, penulisnya punya jaringan luas yang merupakan modal tambahan bagi bobot karyanya. Sebagai Muslim, penulis menunjukkan sikap kritisnya terhadap umat Islam yang jauh dari idealisme Islam
tentang persatuan umat."
-Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah