MARKESOT BERTUTUR (REPUBLISH-4)

Rp. 99,000

Rp. {{ formatPrice(priceCheck.pdf.price) }}

(Pdf) +

Rp. {{ formatPrice(priceCheck.hard_copy.price) }}

(Hard Copy)
Type
Qty Stock : Available
Qty
Stock : 15
Note
Mizan Store
Jakarta
4.5

Markesot adalah sosok lugu nan cerdas, mbeling, terkadang misterius. Dalam kesehariannya dengan sahabat-sahabatnya, Markembloh, Markasan, Markemon, dan lain-lain—yang tergabung dalam Konsorsium Para Mbambung (KPMb)—Markesot memperbincangkan seabrek problem masyarakat kita. Dari konflik politik internasional sampai soal celana. Dari tasawuf hingga filosofi urap. Dalam gaya bertutur khas Jawa Timuran yang penuh canda dan sindiran, Markesot mengajak kita meneropong kehidupan secara arif dan menemukan hakikat di balik nilai-nilai semu yang merajalela.

Markesot Bertutur adalah salah satu karya emas dalam perjalanan kepengarangan Emha Ainun Nadjib. Setelah lama “absen”, buku ini hadir kembali menyapa pembaca. Dan terbukti, apa yang diperbincangkannya masih terus relevan dengan kondisi Indonesia.






Pengantar Editor

Kolom yang hadir secara rutin dalam surat kabar senantiasa memiliki keuntungan dan kerugiannya tersendiri. Keuntungannya, sang penulis bisa memungut tema apa saja yang sedang aktual dalam surat kabar. Pada hari ini, tema besar yang menjadi headline koran dibahasnya. Sementara pada hari yang lain, penulis kolom bisa mengambil tema keseharian yang terluput dari perhatian orang. Karena itu, kolom-kolom yang hadir secara rutin biasanya merambah spektrum permasalahan yang amat luas.

Kerugiannya, justru karena rutinitasnya, penulis kolom harus pandai-pandai memelihara stamina agar intensitas penggarapannya bisa terjaga. Dari satu sisi, penulis kolom bisa diibaratkan seperti seorang pelari maraton. Jika tak lihai untuk mengatur napas, pada pertengahan rute, sang pelari bisa terhenti di tengah perjalanan atau berjalan santai dulu untuk memulihkan stamina. Begitulah, seorang penulis kolom kadang kala juga tampak kehabisan residu untuk men cari tema-tema yang layak ditam pilkan. Pada akhirnya, muncullah problem intensitas atau kedalaman penggarapan sebuah kolom.

Kolom Emha “Markesot” Ainun ini pun menghadapi situasi yang sama. Dalam rutinitas seminggu sekali—di muat di harian Surabaya Post dari 26 Februari 1989 hingga 1 Januari 1992—“Markesot” memasuki berbagai variasi permasalahan. Markesot hadir di negeri yang jauh dalam Perang Teluk dan pada waktu berbeda dia hadir di Kedungombo. Dia mempersoalkan isu besar demokrasi—yang dihadapi sebagai persoalan objektif—hingga soal penghayatan peristiwa kematian yang bersifat esoterik. Kemudian, kolom Markesot memasuki pula wilayah “debat kusir” yang terlepas dari isu-isu aktual surat kabar.

Dengan tema yang sangat variatif dan intensitas yang berbeda-beda itulah, kolom-kolom Markesot hendak dibukukan. Sejumlah persoalan segera muncul ketika rangkaian kolom itu harus dipilah-pilah menjadi beberapa bagian. Pertama, kolom ini memang tidak secara sengaja dimaksudkan untuk menjadi sebuah buku. Dengan demikian, ketika beberapa tema ditetapkan untuk merangkum sejumlah kolom, pada sebagian tema terisi penuh sementara tema yang berbeda terasa kurang. Kedua, ada serangkaian kolom yang muncul mengikuti rentang peristiwa tertentu. Tentunya akan terasa janggal jika ia dipisahkan ke dalam tema-tema yang lain. Ketiga, karena intensitas penggarapan yang tidak sama, kolom-kolom tertentu sebenarnya bisa dimasukkan sekaligus ke dalam beberapa tema atau bagian.

Demikianlah, pemilahan kolom Markesot pada akhirnya tak sepenuhnya berhasil menghindari inkonsistensi. Pada bagian awal, kolom dibagi lebih berdasarkan kedekatan permasalahan. Pada bagian berikutnya, pemilahan kolom lebih didasarkan pada skala persoalan. Sedangkan pada bagian yang lain, proses penggabungan didasarkan pada rentang berlangsungnya sebuah peristiwa. Namun, dalam pembagian atau pembaganan itu diupayakan adanya kesinambungan antartema atau bagian dan antarkolom.

Kolom-kolom yang terkumpul pada Bagian Pertama, “Wajah Kekuasaan”, diikat atas dasar kedekatan tematik. Yakni, bagaimana kekuasaan menampilkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Kolom “Menafsirkan Bersin Baginda Raja” bertutur bagaimana kekuasaan menampilkan dirinya dalam bentuk yang paling subtil. Kekuasaan bekerja dalam psikologi “orang kecil” yang menanggapi “sabda baginda” dengan penafsiran yang berbeda-beda. Konflik pun muncul karenanya. Pada kolom yang lain, “Kegusaran si Binatang Langka”, Markesot bertutur tentang keperkasaan birokrasi dalam mengontrol kehidupan kesenian.

Pada bagian berikutnya, “Ritus dan Religiositas”, Markesot membawa kita pada tema penghayatan ritus-ritus agama. Ritus pada akhirnya mesti diperkaya dengan makna-makna yang lebih substansial. Pada sisi lainnya, mengikuti kolom-kolom pada bagian ini, penghayatan terhadap agama tak selalu berkaitan dengan ritus-ritus yang baku. Kolom-kolom pada bagian ini diikat atas dasar skala persoalan, meskipun dapat pula dikatakan bahwa kolom pada bagian ini memiliki kedekatan tematik.

Adapun pada bagian-bagian lain, “Politik Perang Teluk” dan “Kaum Tersisih”, kolom-kolom dikelompokkan atas dasar rentang berlangsungnya peristiwa. Kronologi perkembangan tahapan peristiwa menjadi bahan baku sebuah kolom.

Dengan cara pemilahan seperti di atas, ada sebuah risiko yang sulit dihindari. Pemuatan kolom ke dalam satu kategori memuat unsur “rudapaksa”: kolom dimasukkan ke dalam sebuah kategori secara arbitrer dengan sedikit mengabaikan nuansa. Namun, ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dengan melakukan pemilahan kolom dalam beberapa bagian. Sebisa mungkin membantu memudahkan pembaca untuk merangkum topik-topik kolom. Kontinuitas pembicaraan pada kolom-kolom yang berdekatan secara tematik menjanjikan wacana pembahasan tersendiri terhadap satu aspek kehidupan.
Kemudian, perlu ditambahkan di sini bahwa gaya bertutur yang menjadi ciri di hampir semua tulisan dalam buku ini akan memberikan keasyikan tersendiri bagi para pembaca. Penulis—lewat Markesot dan teman-temannya (Markendi, Markembloh, Markasan, dan “Mar”-“Mar” yang lain) yang tergabung dalam KPMb (Konsorsium Para Mbambung)—mencoba menciptakan obrolan-obrolan bernas dan cerdas tentang permasalahan masyarakat kita. Sehingga, lewat metode obrolan tersebut, permasalahan yang rumit (misalnya, soal nilai-nilai agama) atau yang bertensi “tinggi” (misalnya, soal penggusuran) dapat diredam sedemikian rupa menjadi persoalan yang dengan mudah dapat dipahami oleh orang-orang awam—karena dibalut oleh canda (guyonan) yang segar serta logika orang-orang mbambung.

Tentang soal asal-usul nama “Mar”-“Mar” itu, silakan baca kolom “Urip, Arep, Urap, Urup” dan “Manusia Ruang dan Manusia Perabot” dalam buku ini. Sementara itu, sosok Markesot sendiri dilukiskan oleh sang penulis sebagai makhluk multidimensional. Dengan menarik sekali—lihat kolom “Kasidah Ya Habibi, Ya Rudini”, “Penghargaan Negara buat ‘Suhu Derun’”, “Markesot Diinterogasi”, hingga “Perjalanan Sunyi”—penulis men-jeléntrèhkan (membeberkan atau menjabarkan) secara detail sosok “makhluk multidimensional” itu. Dikisahkan, misalnya, Markesot dan teman-temannya mendirikan Konsorsium Para Mbambung (KPMb)—lihat kolom “Konsorsium Para Mbambung” dan “Yayasan Almbambung Walkempot”. Dikisahkan pula—lihat kolom “Semua Pemimpin, Semua Bertanggung Jawab”—bahwa warga KPMb yang bermarkas di sebuah rumah kontrakan ini memiliki Majalah Dinding.

Akhirnya, makna mbambung itu sendiri memang perlu diberikan penekanan khusus. Secara harfiah, mbambung berarti “manusia jalanan” atau “manusia yang menggelandang tak tentu arah”, dan seterusnya. Dalam konteks buku ini, mbambung bisa dimaknai sebagai “manusia yang terpinggirkan atau dipinggirkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu” atau “manusia yang tidak masuk hitungan dan tidak digubris oleh lingkungannya”. Dalam kolom “Pidato Markesot Pasca-Teluk (1)”, mbambung diartikan sebagai “orang yang kalah atau dikalahkan”. Dalam kolom “Pohon Pionir” dan “Markesot Diinterogasi”, secara gamblang penulis menjelaskan siapa sebenarnya para mbam­bung itu—baik yang asli maupun yang tidak asli. Tampaknya penulis menggunakan istilah mbambung ini sekadar untuk menunjukkan bahwa dia perlu ruang gerak yang tidak formal dan cukup bebas untuk—suatu saat—menyalahi konvensi atau hal-hal yang sudah mapan. Dari sosok mbambung inilah, seluruh obrolan yang terkumpul dalam buku ini diikat secara utuh dan menyeluruh.

Selebihnya, Anda, para pembaca, masih bebas untuk menentukan dari mana Anda memulai membaca Markesot.

Yogyakarta, 5 Agustus 1993
Kuskridho Ambardi