SEBULAN MENCARI LAILATUL QADAR

Rp. 55,000

Rp. {{ formatPrice(priceCheck.pdf.price) }}

(Pdf) +

Rp. {{ formatPrice(priceCheck.hard_copy.price) }}

(Hard Copy)
Type
Qty
Stock : 29
Note
Mizan Store
Jakarta
4.5

Puasa Ramadhan termasuk istimewa. Ibadah yang penuh promosi padahal tanpa iklan pun umat Islam melaksanakannya. Al-Qur’an menyebut Ramadhan, Hadits pun demikian. Apalagi para ulama dalam kitab-kitabnya tak terhitung menyebut kata Ramadhan sebagai penjelasan atas ibadah spesial ini. Sampai kini pun puasa Ramadhan masih diulas dari berbagai perspektif. Dari sekian banyak pembahasan tak satupun yang memandang negatif terhadap puasa Ramadhan.

Membaca ulasan para ulama tentang Ramadhan setidaknya dapat dinikmati melalui dua pendekatan, yaitu fikih dan tasawuf. Puasa Ramadhan perspektif fikih dapat menenggelamkan pelakunya ke dalam teknis berpuasa yang komplit dan “menyibukkan”. Hiruk pikuk Fikih Ramadhan nyatanya tidak menjadikan pelakunya terbebani, justeru merasa asyik. Begitu juga puasa Ramadhan perspektif tasawuf yang mampu menenggelamkan pelakunya ke dalam samudera kenikmatan ruhani. Puasa Ramadhan yang teknisnya tampak rumit terasa simpel dan menyegarkan ruhani

Endorsemen:
“Ramadhan itu bulan penuh ampunan, keberkahan, dan syafaat. Maka sudah sepantasnya kita selalu menanti kehadiran bulan Ramadhan dan menjalaninya dengan niatan yang ikhlas, memperbanyak ibadah, seperti Salat Tarawih, tadarus, zikir, sedekah, dan zakat bagi yang berkewajiban. Buku ini pun hadir bagian dari memperbanyak ibadah.”
—Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A., Ketua Umum PBNU